Obat
Tradisional & Tanaman Obat
|
Sejak ratusan tahun yang lalu, leluhur telah terkenal pandai meracik jamu dan obat-obatan
tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan bahan-bahan alamiah
lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Ramuan-ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap
sehat, mencegah penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran
meracik bahan-bahan itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun
temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga ke zaman kita
sekarang.
|
Indonesia dan Obat Tradisional
Di tengah-tengah serbuan
obat-obatan modern, jamu dan ramuan tradisional tetap menjadi salah satu
pilihan bagi masyarakat kita. Tidak hanya masyarakat di pedesaan, masyarakat
di perkotaan pun mulai mengkonsumsi obat-obatan tradisional ini. Diberbagai
pelosok tanah air, dengan mudah kita menjumpai para penjual jamu gendong
berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman sehat dan menyegarkan. Demikian
pula, kios-kios jamu tersebar merata di seluruh penjuru tanah air. Jamu dan
obat-obatan tradisional, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat kita.
Keragaman obat-obatan tradisional
di tanah air, telah memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan
bangsa kita. Negara kita menjadi salah satu pusat tanaman obat di dunia.
Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur di seluruh pelosok negeri. Belum
semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya. Kita hanya
berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak
sia-sia. Semua itu pasti ada manfaatnya. Olehkarena itu, perlu dilakukan
konservasi sumber daya alam, agar jangan ada jenis tanaman yang punah.
Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna, tetapi juga
menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global.
Jamu dan obat tradisional, sampai
saat ini belum dikembangkan secara optimal. Produksi jamu dan obat-obatan
tradisional lebih banyak diproduksi oleh homeindustry. Hanya sebagian kecil
jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara masal melalui
industri jamu dan obat tradisional di pabrik-pabrik. Untuk meningkatkan
kualitas, mutu, dan produk jamu serta obat-obatan yang dihasilkan oleh
masyarakat kita, diperlukan kerjasama seluruh pihak yang terkait. Kerjasama
itu dimaksudkan agar jamu dan obat tradisional yang dihasilkan dapat
bersaing, baik di pasar regional maupun global.
Beredarnya jamu dan obat-obatan
yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan, akan merugikan
konsumen. Di samping itu, secara ekonomi, beredarnya obat-obatan seperti itu
justru akan merusak citra obat tradisional. Citra yang rusak akhirnya akan
memukul produksi dan pemasaran obat-obatan tradisional, di dalam maupun di luar
negeri. Pemerintah, terus berupaya melakukan pengawasan demi meningkatkan
keamanan, mutu, dan manfaat obat tradisional. Hal ini dilakukan agar
masyarakat terlindung dari obat tradisional yang dapat menimbulkan efek yang
tidak diinginkan.
Melalui penelitian dan
pengembangan yang cermat dan teliti, jamu dan obat-obatan tradisional dapat
diarahkan untuk menjadi obat yang dapat diterima dalam pelayanan kesehatan
formal. Memang harus kita akui, bahwa para dokter dan apoteker, hingga saat
ini masih belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka
rekomendasikan kepada para pasiennya. Akibatnya, pemasaran produk jamu tidak
dapat menggunakan tenaga detailer seperti pada obat modern.
Akhir-akhir ini, tampak adanya
trend hidup sehat pada masyarakat untuk menggunakan produk yang berasal dari
alam. Oleh karena itu, jamu dan obat-obatan tradisional perlu didorong untuk
menjadi salah satu pilihan pengobatan. Jamudan obat-obatan tradisional harus
didorong pula untuk menjadi komoditi unggulan yang dapat memberikan sumbangan
positif bagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kegiatan itu juga
memberikan peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan.
Penggolongan Obat Tradisional
Obat tradisional adalah bahan atau
ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan
sarian ( galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara
turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Obat bahan alam yang ada di
Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu jamu, obat herbal
terstandar, dan fitofarmaka.
Logo Jamu Tradisional Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur . Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun temurun.
Logo Obat Herbal terstandar Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengant enaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik (uji pada hewan) dengan mengikutis tandar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akutmaupun kronis.
Logo Fitofarmaka Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria memenuhi syarati lmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah. Mengenal Tanaman Obat Keluarga
Pengertian TOGA
Toga adalah singkatan dari tanaman
obat keluarga. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya sebidang tanah baik di
halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan
tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga
akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat
disalurkan kepada masyarakat , khususnya obat yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan.
Pemanfaatan Tanaman Obat
Sejak terciptanya manusia di
permukaan bumi, telah diciptakan pula alam sekitarnya mulai dari sejak itu
pula manusia mulai mencoba memanfaatkan alam sekitarnya untuk memenuhi
keperluan alam bagi kehidupannya, termasuk keperluan obat-obatan untuk
mengatasi masalah-masalah kesehatan. Kenyataan menunjukkan bahwa dengan
bantuan obat-obatan asal bahan alam tersebut, masyarakat dapat mengatasi
masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa obat
yang berasal dari sumber bahan alam khususnya tanaman telah memperlihatkan
peranannya dalam penyelenggaraan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
Pemanfaatan TOGA yang digunakan untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga menurut gejala umum adalah:
Jenis-jenis Tanaman Untuk TOGA
Jenis tanaman yang harus dibudidayakan untuk tanaman obat keluarga adalah jenis-jenis tanaman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Fungsi Toga Salah satu fungsi Toga adalah sebagai sarana untuk mendekatkan tanaman obat kepada upaya-upaya kesehatan masyarakat yang antara lain meliputi:
Selain fungsi diatas ada juga fungsi lainnya yaitu:
Dengan adanya Toga dan bila di tata dengan baik maka hal ini akan menghasilkan keindahan bagi orang/masyarakat yang ada disekitarnya. Untuk menghasilkan keindahan diperlukan perawatan terhadap tanaman yang di tanam terutama yang ditanam di pekarangan rumah. PETUNJUK PENGGUNAAN TANAMAN OBAT
Dalam menggunakan tumbuhan obat,
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga hasil pengobatan yang
maksima. Bacalah dengan seksama semua petunjuk seputar timbuhan obat di bawah
ini.
PENCUCIAN DAN PENGERINGAN
Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih,
sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan
bila diperlukan pemakaian yang bahan segar. Namun, bisa pula dikeringkan
untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan
mengcegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan dapat
disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahan
kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.
Berikut ini cara mengeringkan bahan obat :
Didalam Traditional Chinese Pharmacology dikenal 4 macam
sifat dan 5 macam cira rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian dari cara
pengobatan tradisional timur. Adapun keempat macam sifat tumbuhan obat itu
ialah dingin, panas, hangat, dan sejuk. Tumbuhan obat yang sifatnya panas dan
hangat dipakai untuk pengobatan sindroma dingin, seperti pasien yang takut
dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat atau nadi lambat. Tumbuhan obat
yang bersifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan sindroma panas,
seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua, lidah merah atau denyut
nadi cepat.
Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah pedas,
manis, asam, pahit, dan asin. Cita rasa ini digunakan untuk tujuan tertentu
karena selain berhubungan dengan organ tubuh, juga mempunyai khasiat dan
kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas mempunyai sifat menyebar dan
merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan menyejukan. Rasa asam berkhasiat
mengawetkan dan pengelat. Rasa pahit dapat mengilangkan panas dan lembab.
Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai pencahar. Kadang-kadang ada juga
yang menambahkan cita rasa yang keenam, yaitu netral atau tawar yang
berkhasiat sebagai peluruh kencing.
Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik,
atau panic email,. Pot keramik dapat dibeli di took obat tradisional
Tionghoa. Panic dari besi, alumunium atau kuningan sebaiknya tidak digunakan
untuk merebus. Hal ini diingatkan karena bahan tersebut dapat menimbulkan
endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah, terbentuknya racun atau
menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat.
Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut. Bahan dimasukkan ke dalam pot tanah. Masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air sekitar 30 mm diatasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap kedalam bahan ramuan obat. Lakukan perebusan dengan api sesuai petunjuk pembuatan. Apabila nyala api tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri-sendiri sewaktu merebus baha obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api yang kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan berlebih dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.
Bila tidak terdapat petunjuk pemakaian, biasanya obat
diminum sebelum makan kecuali obat tersebut merangsang lambung maka diminum
setelah makan. Obat berkhasiat tonik diminum sewaktu perut kosong, dan obat
berkhasiat sedative diminum sewaktu ingin tidur. Pada penyakit kronis diminum
sesuai jadwal secara teratur. Rebusan obat bisa diminum sesering mungkin
sesuai kebutuhan atau diminum sebagai pengganti teh.
Obat biasanya diminum satu dosis sehari yang dibagi untuk
2-3 kali minum. Umumnya diminum selagi hangat, terutama untuk pengobatan
sindroma luar. Setelah minum obat, pakailah baju tebal atau tidur berselimut
supaya tubuh tetap hangat dan mudah mengeluarkan keringat.
Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam
keadaan dingin. Sebaliknya untuk pengobatan sindroma dingin obat diminum
dalam keadaan hangat. Obat yang sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit
tetapi sering. Tambahkan dosisnya secara bertahap sehingga efek pengobatan
tercapai.
Tumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil
pengobatannya tampak lambat, namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal
ini berbeda dengan obat kimiawi yang hasil pengobatannya terlihat cepat namun
destruktif. Oleh karena itu, obat yang berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan
penggunaannya untuk penyakit-penyakit infeksi akut. Tumbuhan obat lebih
diutamakan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang
tidak dapat disembuhkan dengan obat kimiawi, atau memerlukan kombinasi antara
obat kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat.
http://anggerwiddiariyanto.blogspot.com
|
Minggu, 07 September 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar